Assalamualaiku Warahmatu llahi Wabarakatuh
Menanggapi opini salah seorang prof.yang terkenal di Aceh yang di muat di Serambi Indonesia pada beberapa waktu yang lalu
Saya hanya salah seorang pengajar dayah dan tidak memiliki gelar apapun selain tgk itu hanya panggilan anak-anak didik selama ini .
Baikalah’’’
Menurut saya yang dikatakan pak prof dalam Serambi Indonesia tersebut adalah keliru atau tersilap lidah yaitu pernyataan ’’ wahabiah termasuk juga sebagai pengikut ahlussunnah wal jamaah’’. Pernyataan Ini bukan dan sangat tidak tepat, karena ulama yang mengatakan kesesatan wahabi bukan hanya di Aceh atau di Indonesia saja tetapi diseluruh dunia seperti Syaih Ali Jum’ah di Mesir yang pernah menjadi rektor Al-Azhar, Syaih Ramadhan Al-Buthi bahkan banyak lagi ulama yang mengatakan kesesatan sekte wahabi lihat
https://www.youtube.com/watch?v=QDceQiQCBFY
Sedangkan di Indonesia seluruh ulama Indonesia mengatakan kesesatan wahabi apalagi di Aceh
Wahabi selama ini dikenal ekstrim, suka membida’kan dan sering mengkafirkan sesama Islam, perayaan maulid nabi Muhammad saw dikatakan haram sedangkan mereka merayakan kelahiran  pendirinya yaitu Muhammad bin Abdul Wahab An-najdi lihat http://www.sarkub.com/2011/perayaan-maulid-muhammad-bin-abdul-wahhab/
menurut saya memang sekte wahabi bukan lagi Ahlusunnah Wal Jama’ah karena menentang dengan mayoritas ulama sejak masa rasuluillah sampai sekarang sebagai mana pernyataan KH.Idrus Ramli lihat juga https://www.youtube.com/watch?v=b7ZniAMkrpU
seperti yang dikatatakan pak prof kita harus terbuka dalam memahami sejarah maka jangan menutup sejarah yang bersumber dari Arab Saudi  lihat :
http://aceh.tribunnews.com/2015/06/29/masa-kelam-masjidil-haram?page=3
tetapi masih banyak sumber sejarah terutama Ulama Aceh di dayah yang bermazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah
juga termaktub dalam kitab A’qidah Thahawiyah juz II halaman 1464  penjelasan sekte yang diluar ASWAJA yang salah satunya Aliran  Musyabbihah  artinya yang mengatakan Allah sama dengan makluk dan itu adalah kaum salafi wahabi dan  I’tikat wahabi yang mengatakan Allah bertempat di langit padalah Allah  bersifat mukhlafatuhu lil hawadist artinya tidak perlu kepada tempat.

Ini uraian saya sedikit supaya bermamfaat Syukran Wa Allhu A”lam bis Shawab
Share To:
Tgk. Yusrizal Aswaja

Tgk. Yusrizal Aswaja

Adalah seorang staf pengajar di Dayah MUDI MESRA Samalanga, Yang aktif dalam lembaga Lajnah Bahsul Masail Dayah MUDI Mesjid Raya.