Sejarah Sekte Salafi Wahaby
Oleh
: Abu MUDI H. Hasanoel Bashry HG.
9
الحمد
لله المنفرد بالإيجاد. والصلاة والسلام على سيدنا محمد أفضل العباد. وعلى آله
وأصحابه أولى البهجة و الرشاد. (وبعد)
Wahabi
dinisbahkan kepada pendirinya Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi. Ia lahir tahun
1115 H/1703 M dan ia wafat dalam usia yang panjang tahun 1206 H/1792 M. Ia
merupakan pengagum Ibnu Taimiyah (1263 M/661 H – 1328 M/ 728 H), sehingga
banyak pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah yang ia ikuti. Semenjak kecil ia
belajar agama Mazhab Hanbali kepada ayahnya yang juga seorang qadhi dalam
Mazhab Hanbali. Selain itu ia juga pernah berguru kepada beberapa ulama Makkah
dan Madinah seperti Syeikh Muhammad Sulaiman Kurdi, Syeikh Muhammad Hayat
as-Sindi dll. Ia sempat pergi belajar ke Bashrah namun akhirnya kembali karena
ditolak diterima sebagai murid.
Semenjak
dari masa belajarnya yang singkat telah tampak darinya gelagat penyimpangan
yang besar, sehingga ayahnya, abangnya dan para guru-gurunya mengingatkan
masyarakat akan bahaya penyimpangannya dan menyatakan bahwa anak ini akan sesat
dan akan menyesatkan banyak orang yang Allah jauhkan dari rahmatNya.
Melihat
kesesatannya itu, abang kandungnya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab mengkritik
pedas pahamnya dengan menulis kitab; ash-Shawai`q Ilahiyyah fi ar-Radd `ala
al-Wahhabiyah, kitab ini juga dikenal dengan nama lain Fashlu al-Khitab
fi ar-Radd `ala Muhammad ibn Abdil Wahhab (kami memiliki file kitab
tersebut dalam format PDF, siapa yang ingin memilikinya silahkan menghubungi
kami). Kitab tersebut beliau karang karena beliau merasakan paham adik beliau
yang telah jauh menyimpang keyakinan Ahlus sunnah wal Jamaah yang merupakan
keyakinan Imam Ahmad bin Hanbal yang banyak dianut oleh masyarakat Najd, Saudi
Arabia ketika itu.
Tokoh
terkenal lain, seorang mufti Makkah yang hidup sezaman dengan Muhammad bin
Abdul Wahab yaitu Muhammad ibn Humaid juga tidak pernah memasukkan nama
Muhammad bin Abdul Wahab dalam jajaran ulama Manhaz Hanbali ketika beliau
menyebutkan nama 800 ulama Mazhab Hanbali padahal beliau memasukkan nama
ayahnya, Syekh Abdul Wahab dalam jajaran ulama Hanbali bahkan memuji kadar ilmu
beliau. Beliau juga menerangkan bahwa ayah Muhammad bin Abdul Wahab pernah
dengan jengkel mengatakan:
يا من ترون من محمد من الشر فقدر
الله ان صار ما صار
“Kalian akan
melihat kejahatan yang dilakukan Muhammad (bin Abdul Wahab) Allah telah mentaqdirkan
segala yang terjadi”
Pada
tahun 1143 H, Muhammad bin Abdul Wahab sudah mulai memperlihatkan dakwahnya,
ayahnya, abang kandungnya serta para ulama-ulama lainnya berdiri tegak
menghalau kebatilannya, sehingga usahanya tidak berhasil. Barulah ketika
ayahnya wafat pada tahun 1153 H ia mulai leluasa untuk menebar kembali
kesesatannya. Ia menyuarakan kembali ajakannya dikalangan kaum awam agama
sehingga sereka dengan mudah mengikuti dakwahnya. Hal ini diceritakan oleh Ibnu
Bisyir dalam kitabnya `unwan al-Majd pada halaman 8 jilid 1 Cet. Dar
al-Malik Ibnu Abdul Aziz, Riyadh, Arab Saudi tahun 1982 M/1402 H.
Atas
tragedi itu ia dicap oleh para ulama sebagai anak durhaka terhadap ayah dan
gurunya sendiri, yang merupakan seorang qadhi Mazhab Hanbali yang alim.
Masyarakat sekitar Huraimila saat itu tidak menerima ajaran Muhammad bin Abdul
Wahab, sehingga ia melarikan diri ke kota `Uyainah. Di sana ia merapat dengan
emir kota tersebut dan menikahi salah satu kerabatnya. Namun tak lama kemudian
masyarakat `Uyainah keberatan dengan dakwahnya sehingga ia diusir dari kota
tersebut. Lalu ia pergi ke Dir`iyah disebelah timur kota Najd-sebuah daerah
yang dahulunya didiami oleh Musallamah al-Kazzab yang mengaku dirinya sebagai
nabi.
Disana
ia mendapat dukungan penuh dari emirnya, Muhammad bin Sa`ud dengan perjanjian,
kekuasaan pemerintahan hanya dipegang oleh keluarga Muhammad Sa`ud sedangkan
Muhammad bin Abdul Wahab dan keturunannya memegang urusan agama. Saat itu ia
mulai bertingkah seperti mujtahid agung tanpa pernah menghiraukan pendapat Imam
terdahulu maupun ulama sezaman dengannya. Menyingkapi hal ini saudara
kandungnya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab mengatakan dalam kitab Shawa`iq
Ilahiyyah :
اليوم ابتلى الناس بمن ينتسب الى
الكتاب والسنة ويستنبط من علومهما ولايبالى من خالفه ومن خالفه فهو عنده كافر وهو
لم يكن فيه خصله واحد من خصال اهل الاجتهاد ولا والله ولا عشر واحده ومع هذا راج
كلامه على كثير من الحهال فانا لله وانا اليه راجعون.
“Saat ini
manusia tengah ditimpa bencana besar dengan munculnya orang yang mengaku-ngaku
berdasarkan al-Quran dan sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang menyalahinya
bahkan setiap orang yang menyalahinya dianggap kafir, padahal ia bukan orang
yang menyandang satupun dari sekian banyak syarat ijtihad bahkan sepersepuluh
dari salah satu syaratnya saja tidak ia miliki. Namun demikian kalamnya laris
dikalangan masyarakat jahil. Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un”.
Hubungan
Muhammad bin Sa`ud dan Muhammad bin Abdul Wahab dikuatkan dengan pernikahan
putra Muhammad bin Sa`ud, Abdul Aziz ibn Sa`ud dengan putri Muhammad bin Abdul
Wahab. Maka dinasti Sa`ud-Wahabi terbentuk yang akhirnya menjelma menjadi
Negara Arab Saudi hingga saat ini.
Gerakan
wahhabiyah dan Dinasti Sa`ud sejak kemunculannya terus berusaha menundukkan
suku-suku di Jazirah Arab. Pada tahun 1746 Muhammad bin Abdul Wahab
mengeluarkan proklamasi jihad terhadap siapa saja yang menentang dakwahnya. Penyerangan
dilakukan terhadap suku-suku yang dinyatakannya sebagai kafir dan halal darah
serta harta mereka. Setiap suku yang belum masuk wahabi diberi dua tawaran;
masuk wahabi atau diperangi sebagai kaum musyrik. Tidak banyak yang bisa
bertahan menghadapi kebrutalan mereka. Pada tahun 1773 tidak ada lagi lawan
yang berarti di Najd. Kota Riyadhpun sudah menyerah. Hingga tahun 1806 mereka
sudah menebar terror ke sebagian besar wilayah Arab. Di selatan sampai ke Oman
dan Yaman, untuk daerah utara sampai ke Baghdad dan Damaskus. Untuk menundukkan
hati pengikutnya, dalam peperangan mereka yang mereka klaim sebagai jihad,
mereka memperoleh pendapat dan rampasan perang dari penyerangan, penaklukan dan
pembunuhan yang mereka lakukan.
Jazirah
arab dan semenanjung Timur Tengah ketika itu berada di bawah kekuasaan Turky
Usmani, merekalah yang merenovasi dan memperbaiki serta mengurus Masjidil
Haram, Masjid Nabawi, Arafah, Mina, perkuburan Ma`la, Baqi dan tempat
bersejarah lain. Dengan adanya pergerakan militan kaum wahaby berarti mereka
telah melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan islam ketika itu, hal itu
tak terlepas dari bantuan Inggris dan Yahudi yang memang menginginkan
kehancuran bagi kekhalifahan Islam.
Dalam
perjalanan pemberontakan kaum Sa`ud Wahaby, akhirnya mereka berhasil merebut
kota Makkah al-Mukarramah dari tangan Khalifah Turki Usmani. Untuk
menanggulangi hal tersebut, beberapa kali dilancarkan serangan dari Baghdad
oleh khalifah Turki, namun gagal. Gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasya diserahi tanggung
jawab untuk merebut kembali Hijaz dan tanah suci. Setelah gagal tahun 1811,
pada tahun 1812 pasukan kekhalifahan Turki Usmani dari Mesir berhasil merebut
kembali Madinah. Pada tahun 1815, pasukan Mesir menyerbu Riyadh, Makkah dan
Jeddah. Kali ini pasukan wahabi kocar kacir. Pada saat itu, Ibrahim Pasya,
putra penguasa Mesir sebagai wakil kekhalifahan Turki dating dengan 8.000
pasukan kavaleri dan infantry dari Mesir, Albania dan Turki. Muhammad Sa`ud
sendiri bersama beberapa keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo kemudian ke
Istanbul dan akhirnya ia dihukum mati.
Pada
tahun tahun 1902, Abdul Aziz, putra Abdur Rahman ibn Sa`ud yang mengungsi ke
Kuwait, memulai meraih kembali kejayaan Dinasti Saud-Wahabi yang telah hilang.
Dengan bantuan penguasa Kuwait, ia berhasil merebut kembali kota Riyadh.
Pertarungan di Najd terjadi antara Ibnu Sa`ud (panggilan bagi Abdul Aziz) yang
dibantu Inggris melawan Ibnu Rasyid yang dibantu khalifah Turki Usmani. Inggris
ikut campur karena khawatir dukungan Khalifah Turki Usmani terhadap Ibnu Rasyid
akan mengancam kepentingan mereka di Kuwait. Pada tahun 1906 wilayah Qasim
direbut oleh Ibnu Sa`ud sehingga kekuasaannya semakin dekat dekat dengan
wilayah Rasyidi di Nadj Utara. Selain itu Ibnu Sa`ud juga menguasai kota
penting lain seperti Unayzah dan Buraidah.
Pada
26 Desember 1915, ketika perang Dunia meletus Ibnu Sa`ud menyepakati traktak
dengan Inggris dimana Inggris mengakui kekuasaan Ibnu Sa`ud atas Najd, Hasa,
Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung dalam empat wilayah ini.
Dalam perjanjian ini apabila Ibnu Sa`ud diserang maka Inggris akan membantu
dengan kekuatan penuh. Ibnu Sa`ud juga mendapatkan bantuan dari Inggris berupa
1.000 senapan dan uang £20.000.
selain itu Ibnu Sa`ud juga menerima subsidi bulanan £5.000 dan senjata yang dikirim secara
teratur sampai tahun 1924 bersamaan dengan runtuhnya khilafah Turki Usmani. Sebagai
imbalannya Ibnu Sa`ud tidak akan ikut campur tangan di kawasan Kuwait, Bahrain,
Qatar, dan Oman yang berada di bawah proteksi Inggris.
Sementara
saingan Ibnu Sa`ud, Ibnu Rasyid tetap berada di bawah kekhalifahan Turki
Usmani. Seiring dengan semakin melemahnya kekhalifahan Turki Usmani, setelah
dikepung berbulan bulan, akhirnya pada 4 November 1921 Ha`il (ibu kota Klan
Rasyidi) jatuh ketangan Ibnu Sa`ud yang dibantu oleh Inggris. Setelah
menaklukan Ha`il, Ibnu Sa`ud beralih ke Hijaz, satu persatu kota di Hijaz
direbut. `Asir jatuh pada tahun 1922,
disusul Thaif, Makkah dan Madinah pada tahun 1924 dan Jeddah pada tahun 1925.
Pada
tahun 1932, Ibnu Sa`ud berhasil menyatukan wilayah yang sekarang disebut Negara
Saudi Arabia. Kemudian penemuan minyak diwilayah padang pasir semakin
memberikan Ibnu Sa`ud kekayaan yang melimpah. Pada tahun 1953 ibnu Sa`ud
meninggal dan digantikan oleh Raja Sa`ud hingga tahun 1964 kemudian Raja Faishal hingga tahun 1975
Kehadiran
wahabi di timur tengah merupakan blue print pemerintah Inggris yang didalangi
oleh yahudi dengan tujuan melemahkan khilafah Turki Usmani kala itu. Tujuan
akhirnya adalah merobek-robek kesatuan umat islam, membangkitkan fitnah dan
mengobarkan peperangan sesama muslim demi kepentingan penjajah barat dan
Yahudi. Demikianlah analisis yang disampaikan oleh ahli sejarah Timur Tengah,
Dr. Muhammad Awadh al-Khatib dalam buku beliau yang berjudul shafahat min
tarikh al- Jazirah al-Arabiyah dan juga Dr. Zuhair al-Ghazawi dalam buku
beliau al-Mu`assaat ad-Diniyah al-Islamiyah wa al-Kiyan ash-Shahyuni
)Nazhrah ila Fatwa Ibnu Bazz bi Jawaz ash-Shulh) .
Nama
kaum Salafi
Kata
Salafi dinisbahkan kepada as-Salaf yang artinya orang-orang terdahulu. Kata
salaf dalam istilah dimaksudkan kepada generasi islam terdahulu (para shahabat,
tabi`in dan tabi` tabi`in) yang mendapat pujian dari Rasulullah
SAW. Maka kata salafi dapat diartikan sebagai orang-orang yang mengikuti para
Shahabat Nabi, tabi`in dan tabi` tabi`in. sebenarnya tidak ada
masalah dengan kata salafi tersebut, karena semua umat muslim mengakui para
shahabat, tabi`in dan tabi` tabi`in dan menerima mereka sebagai contoh
tauladan. Namun belakangan ini kata salafi sedikit tercemari karena
propaganda yang begitu gencar yang mengarahkan istilah salafi kepada
satu kelompok tertentu (wahabi). Dimana mereka mengklaim merekalah satu-satunya
kelompok yang mengikuti ulama salaf dan menyalahkan semua golongan yang berbeda
pendapat dengan mereka.
Sebenarnya,
kelompok yang saat ini mengklaim diri mereka dengan salafi tak lain adalah
kelompok yang dulunya lebih dikenal dengan nama wahabi. Pada hakikatnya mereka
bukanlah pengikut ulama salaf tetapi pengikut Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul
Wahab dan tokoh-tokoh wahabi lainnya. Pada awal berdirinya hingga awal abad 20
istilah salafi untuk kaum wahabi belumlah popular. Orang yang pertama sekali
mempopulerkan istilah salafi untuk kelompok mereka adalah Nashiruddin al-Bani
sebagaimana terekam dalam dialognya dengan salah satu pengikutnya, yaitu Abdul
Halim Abu Syuqqah, pada bulan Juli 1999/Rabiul Akhir 1420H.
Beberapa
fatwa dan pendapat kaum Salafi Wahabi yang menyimpang.
Secara
umum para ulama salafi wahabi sering mengeluarkan fatwa yang nyeleneh dan
menyimpang antara lain:
1. Haram menabur
Bunga diatas kubur.
2. Fatwa tokoh wahabi, Abdullah bin Zaid dalam kitabnya al-Iman
bi a-Anbiya Jumlatan bahwa Nabi Adam as bukanlah seorang Nabi dan bukan
pula Rasul.
3. Neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab
selamanya.
4. Thalak istri ketika haid tidak jatuh.
5. Zikir laailaha illah seribu kali sesat dan
musyrik seperti yang dikatakan oleh Hisyam al-Aqqad dalam kitabnya Halaqat
Mamnu`ah.
6. Shalawat setelah azan sama dosanya dengan perzinaan.
7. Meletakkan ranting pohon diatas makam tidak pernah
disyariatkan.
8. Haram ziarah ke makam Rasululah dan para ulama dan
orang-orang shaleh.
9. Kalimat shadaqallahu al-Adhim setelah membaca
Al-Quran adalah bid`ah dan sesat.
10. Muslim/Muslimah yang tidak shalat berjamaah haram
untuk dinikahi.
11. Pengumuman tentang berita kematian hukumnya haram.
12. Membaca al-Quran untuk mayit haram dan pelakunya di
azab.
13. Mengucapkan selamat hari raya adalah sesat.
14. Haram berbahasa inggris, prancis dan bahasa kaum kaum
kafir yang lain dengan alasan tasyabuh.
15. Haram menggunakan tasybih.
16. Mengharamkan maulid Rasulullah SAW.
17. dll
Kejahatan-kejahatan
kaum salafi wahabi.
Mulai
dari kemunculannya hingga sekarang kaum salafi wahabi tidak pernah
henti-hentinya melakukan kejahatan. Kejahatan mereka sebenarnya telah dimulai
dari pendirinya sendiri yang telah durhaka terhadap ayahnya dan sekaligus
gurunya sendiri. Diantara kejahatan-kejahatan besar mereka adalah:
- Melakukan penyerangan, pembantaian massal terhadap kaum muslimin
tanpa membedakan antara kaum laki-laki, wanita dan anak-anak serta
merampas kekayaan penduduk dan merobek serta menginjak-injak al-quran dan
kitab-kitab ilmu agama di Thaif pada tahun 1803 M/1217 H.
- Menyerang Makah dan Madinah pada tahun 1803 M-1804 M, serta
membunuh para jamaah haji pada tahun 1220 H/1805 disekitar Ahsa, dan
- Menyerang dan membunuh penduduk kampung asal pendiri Wahabi
sendiri, Muhammad bin Abdul Wahab, yaitu kota Uyainah pada tahun 1163 H. dan
kota Riyadh pada tahun 1187 H.
- Penyerangan ke Kuwait tahun 1205 H/1790 M, tahun 1213 H/1798 M dan
tahun 1223 H/1808 M
- Penyerangan terhadap ulama-ulama Yaman pada tahun 1224 H
- Penyerangan ke daerah Turbah dan Hizbah yang menewaskan 3.000
penduduk.
- Penyerangan pasar asy-Syuyukh dan al-Abyadh di Iraq tahun 1213 H/1798 M.dan penyerangan-penyerangan
lainnya.
- Membunuh para ulama yang tidak sepaham dengan mereka, seperti
Syeikh Abdullah az-Zawawi(mufti Mazhab Syafii ketika itu), Syeikh Abdullah
Abu Khair, Syeikh Ja`far Syaiby dan ulama-ulama yang lain.
- Membantai Jamaah haji asal Yaman pada tahun 1341 h/1921M,
- Menghalangi umat Islam dari Syiria untuk menunaikan ibadah Haji
pada tahun 1959 M.
- Menghancurkan berbagai situs peninggalan Islam seperti kubah-kubah
disekitar Ma`la, kubah kakek Nabi, Abdul Muthalib, rumah kelahiran Nabi, kubur-kubur
para shahabat Nabi di Baqi`,
- Turut bekerja sama dengan kafir Inggris dalam menghancurkan
khilafah Turki Usmani.
- Memalsukan kitab karangan para ulama terkemuka terutama bila tidak
sesuai dengan keyakinan mereka.[1]
- Mengharamkan bahkan menganggap amaliah mayoritas kaum muslim yang
lain sebagai amalan syirik, bid`ah seperti tahlilan, maulid Nabi, qunut
shubuh, tawasol, nazar, tabaruk, ziarah kubur dll.
- dll
Salafi wahabi
adalah kaum khawarij pada masanya.
Pemikiran
kaum wahabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab diinspirasi oleh
pemikiran Ibnu Taimiyah yang merupakan sempalan Mazhab Hanbali. Disebut sempalan
karena faham itu tidak sama lagi dengan
Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, bahkan terlalu tajam perbedaannya. Kemudian paham-paham sesat Ibnu Taimiyah
tersebut dilanjutkan oleh Muhammad bin
Abdul Wahab sekitar dua abad silam.
Tidaklah
berlebihan bila dikatakan bahwa kaum wahabi salafi memiliki banyak kesamaan
dengan kaum khawarij ada dulu. Sehingga bisa dikatakan bahwa kaum wahabi salafi
adalah kelompok khawarij pada masa ini. Hal dinyatakan secara terang oleh
al-Allamah Syeikh Ahmad Shawi al-Maliky dalam kitab beliau Hasyiah `ala
Jalalain.[2]
Diantara persamaan wahabi salafi dengan kaum khawarij adalah:
- Sebagaimana kaum khawarij sangat mudah menuduh kaum muslim yang
lain dengan sebutan kafir, demikian juga kaum wahabi salafi sangat mudah
menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid`ah, khurafat dan
takhayul.
- Sebagaimana kaum khawarij memahami al-Quran dan hadits secara
harfiyah dan kaku, kelompok salafi wahabi juga memiliki pemahamann yang
sama. Bahkan kaum salafi wahabi memahami ayat-ayat mutasyabihat secara
harfiyah, seperti kata-kata yad, wajh, nuzul, istiwa` dalam
al-quran diartikan secara harfiyah sehingga mereka terjerumus dalam
pemahaman menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Sebagaimana kaum khawarij disifati oleh Rasulullah sebagai pembunuh
kaum muslim dan membiarkan penyembah berhala, demikian juga kaum salafi
wahabi, sejarah telah membuktikan bahwa peperangan yang dilakukan oleh
kaum wahabi salafi hanyalah peperangan dengan kaum muslimin dan bekerja
sama dengan pemerintah Inggris untuk melawan Khilafah Turki Usmani.
- Sebagaimana kaum khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan
menyimpang dari keyakinan ulama ahlus sunnah, demikian juga kaum salafi
wahabi, mereka memiliki pemahaman yang berbeda dengan mayoritas ulama,
mereka mengharamkan ziarah, tahlilan, talqin, membaca shalawat kepada Nabi
bahkan menganggap para pelakunya sebagai pelaku syirik dan baid`ah, padahal
mayoritas ulama membolehkannya dan menganggapnya satu ibadah yang memiliki
nilai lebih.
- Sebagaimana kaum khawarij meyakini bahwa satu Negara muslim bila
penduduknya melakukan dosa-dosa besar maka dapat dikategorikan sebagai dar
harb yang penduduknya boleh diperangi, demikian juga salafi wahabipun
meyakini hal yang sama sebagaimana dapat kita lihat dari prilaku
kelompok-kelompok radikal salafi wahabi yang melakukan terror diberbagai
tempat dengan mengorbankan kaum muslim.
Beberapa
nama-nama tokoh salafi Wahabi. [3]
Merupakan hal
yang penting untuk mengetahui nama-nama tokoh kaum salafi wahabi baik yang
berasal dari Timur Tengah maupun dari Indonesia sendiri, apalagi kebiasaan
mereka banyak mengarang buku-buku yang dengan mudah dicetak dan disebarkan
dalam masyarakat karena memiliki donatur yang kuat.
Diantara
nama-nama tokoh salafi wahabi adalah:
- Ibnu Taimiyah, ia adalah sumber pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab.
Dikalangan kaum salafi wahabi, ia dikenal sebagai mujtahid agung dan
digelari dengan Syaikhul Islam.
- Muhammad bin Abdul Wahab(1701-1792 M), yaitu anak durhaka kepada
ayahnya dan pendiri aliran wahabi.
- Ibnu Baz/bin Bazz (1912-1999), ia merupakan salah satu tokoh
terkemuka dikalangan Salafi Wahabi. Nama lengkapnya Abdul Aziz bin
Abdullah bin Muhammad bin Abdullah Alu Baz.
- Ibnu Shalih Utsaimin (1929-2001 M) nama lengkapnya Abdullah
Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin at-Tamimi.
- Muhammad Nashiruddin al-Bani (1999 M). al-Bani dikalangan kaum
salafi dikenal sebagai muhaddits yang sangat berani dan mudahnya
mendhaifkan hadits-hadist dalam shahih Bukhari dan Muslim. Dikalangan
ulama Ahlus sunnah ia dikenal sebagai muhaddits gadungan, banyak para
ulama yang telah mengarang kitab menolak paham al-Bani. Al-Bani meninggal
di Yordania.
- Shalih Ibnu Fauzan (Ibnu Fauzan). Nama lengkapnya Dr. Shalih bin
Fauzan bin Abdullahlahir tahun 1933 M.
- Muqbil ibnu Hadi al-Wadi`I (1934-2001). Nama lengkapnya adalah
Muqbil bin Qayidah al-Hamdani al-Wadi`I al-Khilali, lahir di Damaj, Yaman
dan meninggal di Jeddah.
- Rabi` bin Hadi al-Madkhali. Nama lengkapnya Rabi` bin Hadi bin
Muhammad `Umair al-Madkhali, lahir di Jaradiyah, Shamithah, Saudi Arabia
tahun 1933M.
- Hamud bin Abdullah at-Tuwaijiri (1916-1992 M)
- Bakr bin Abdullah Abu Zaid (1944-2008 M).
- Muhammad Ibnu Jamil Zainu. Lahir di Halab, Syiria tahun 1925 M dan
meninggal pada 8 oktober 2010, ia adalah murid dari al-Bani dan ibnu Bazz.
- Abdurrahman bin Nashir as-Sa`di. Ia lahir di kota Unaizah, Qasim,
wilayah Najd, Arab Saudi dan meninggal tanggal 24 Januari 1957 ditanah
kelahirannya.
- Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh(1894-1969). Alu Syaikh adalah gelar
yang digunakan untuk keturunan pendiri salafi wahaby, Muhammad bin Abdul
Wahab.
- Muhammad Amin asy-Syinqithy(1897-1972 M)
- Muhammad Aman al-Jami (1930-1996 M). Nama lengkapnya adalah
Muhammad Aman bin Ali Jami Ali, lahir di Habasyah/Ethiopia, Afrika.
- Ali Ibnu Hasan al-Halabi.
- Ahmad ibnu Yahya an-Najmi
- Ubaid al-Jabiri.
- Dr. Aid al-Qarni, pengarang buku La Tahzan.
- Selain itu ada tokoh-tokoh salafi wahabi generasi baru murid-murid tokoh-tokoh
utama wahabi yang telah tiada.
Nama-nama
website kaum salafi wahabi.
Kaum
salafi wahabi memang banyak menguasi media baik media cetak maupun media
elektronik. Di dunia maya, cukup banyak bertebaran website, blog para
tokoh-tokoh wahabi baik dalam bahasa arab maupun bahasa Indonesia. Karena itu
bagi umat islam pengguna internet perlu selektif dalam mencari informasi
keagamaan di internet. Dibawah ini kami sebutkan beberapa situs ustad-ustad
salafi wahabi dalam bahasa Indonesia saja, antara lain:[4]
- http://ustadabdulhakim.co.cc
- http://alhujjah.wordpress.com
- http://hatibening.com
- http://tanyajawabbagaimanaislam.blogspot.com
- http://addariny.wordpress.com
- http://abuabdurrahman.wordpress.com
- http://abul-jauzaa.blogspot.com
- http://noorakhmad.blogspot.com
- http://abuhaidar.web.id
- http://ustad.abuhaidar.web.id
- http://basweidan.wordpress.com
- www.ustadzabuihsan.blogspot.com
- http://abumushlih.com
- http://abusalma.wordpress.com
- http://abiubaidah.wordpress.com
- http://albamalanjy.wordpress.com
- www.abu-ukkaasyah.co.cc
- http://abuumar.com
- http://abuzubair.net
- http://sunande.wordpress.com
- http://adniku.wordpress.com
- www.alisamanhasan.blogspot.com
- http://abuthalib.blogspot.com
- http://ustadzaris.com
- http://jihadbukankenistaan.com
- http://fariqgasimanuz.wordpress.com
- http://firanda.com
- http://al-atsariyyah.com
- http://ustadzkholid.com
- http://abuodihyah.com
- http://rumaysho.com
- http://muhammad-assewed.blogspot.com
- http://abufawazwordpress.com
- http://sabilulilmi.wordpress.com
- http://penuntutilmu.multiply.com
- http://media-ilmu.com
- Dll.
Demikianlah
sejarah singkat kaum Wahabi yang kini lebih memperkenalkan diri mereka dengan
nama kaum salafi. Sebagian besar isi sejarah ini kami kutip dari buku Sejarah
Berdarah Sekte Salafi Wahabi, berita-berita dalam tulisan ini tidak kami
sebutkan referensinya, namun semua referensi lengkap tentang kejadian-kejadian
tersebut ada dalam buku tersebut. Semoga menjadi benteng bagi umat muslim di
Aceh khususnya, apalagi saat ini mereka sangat gencar dan tak pernah berhenti
dalam menyebarkan paham mereka yang sesat menyesatkan. Hanya kepada Allah kita
meminta supaya Allah selalu menjadikan kita selalu berada dalam golongan Ahlus
sunnah wal Jama`ah dan semoga Allah menjauhkan kita, keluarga kita dan masyarakat
kita dari fitnah kaum salafi wahabi. Amiin.
Wallahu A`lam
bish Shawab.
[B]
Tgk. H.
Hasanoel Bashri HG
LPI MUDI
MESRA, Samalanga, 21 November 2012
Sumber;
- Syeikh Idahram, Sejarah
Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Cet. Pustaka Pesantren thn 2011.
- Syeikh Idahram, Ulama
Sedunia Menggugat Salafi Wahabi, Cet. Pustaka Pesantren thn 2012
- Syeikh Idahram, mereka
memalsukan kitab-kitab karya ulama khasik. Cet. Pustaka Pesantren thn
2011
- dll
[1] Untuk lebih
lengkapnya baca bukau; mereka memalsukan kitab-kitab karya ulama khasik karangan
syaikh Idahram.
[2] Imam Ahmad
Shawi mengatakan dalam Hasyiah Shawy `ala Jalain ketika menafsirkan ayat 8 dari
surat al-Fathir bahwa kaum wahabi termasuk dalam kaum khawarij, namun dalam beberapa
cetakan dalam beberapa tahun silam
hingga sekarang, kalimat tersebut telah dihilangkan. Kami telah memeriksa satu
nashkah kitab Hasyiah Shawi `ala Jalalain terbitan Maktabah Al Azharyah cetakan
I tahun 1345 H/1926 M hal 255 yang ada diperpustakaan LPI Mudi Mesra, kami
dapati tertulis:
وقيل هذه الاية نزلت فى الخوارخ الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة ويستحلون
بذالك دماء المسلمين واموالهم لم هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة
بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء الا انهم هم الكاذبون استحوذ
عليهم الشيطان.
"ada yang berpendapat bahwa ayat
ini(ayat 8) diturunkan berkenaan tentang kaum khawarij yang telah merubah
ta`wil kitab dan sunnah dan dengan demikian mereka menghalalkan darah kaum dan
harta muslimin sebagaimana disaksikan sekarang pada perbandingan mereka, mereka
adalah satu kelompok di tanah hijaz yang dinamakan kaum Wahhabiyyah, mereka
menyangka mereka berada atas kebenaran, ketahuilah bahwa mereka para pendusta,
mereka telah dikuasai oleh Syaithan".
Kalimat وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية /"mereka adalah satu kelompok di tanah hijaz
yang dinamakan kaum Wahhabiyyah" telah
dibuang dalam beberapa cetakan termasuk juga cetakan Haramain yang banyak
beredar saat ini. Kemudian dalam cetakan Toha putra jilid 3 pada akhir halaman
307 setelah kalimat دماء المسلمين terdapat kosong yang bersambung
hingga halaman selanjutnya yang tertulis الا انهم هم الكاذبون .Jadi pada cetakan toha putra kalimat:
واموالهم لم هو مشاهد الان فى نظائرهم يحسبون انهم على
شيء
telah
ditutupi, lucunya kalimat واموالهم dituliskan kembali dengan
tulisan tangan, mungkin karena mereka telah menutupi tulisannya melebihi tujuan
utamanya. Ini juga menjadi bukti yang kuat bahwa antara kalimat فى نظائرهم dan يحسبون انهم terdapat kalimat yang telah dibuang.
[3] Syaikh
Idahram, Ulama Sedunia Menggugat Salafi Wahabi, hal 215-232 Cet. Pustaka
pesantren thn 2012 dan buku Sejarah berdarah Sekte Salafi Wahabi hal 47-56 Cet.
Pustaka Pesantren.

